Sejak terbangun dari tidurku yang lelap, tak ada hal yang membuatku sedih, marah ataupun tersinggung.
Kuhirup udara yang begitu segar yang di selumbungi panas matahari yang tak terik namun cukup untuk mengusir hujan dan dinginnya kota.
Kuratapi jalan yang kulalui setiap harinya dari jendela kaca bis, orang-orang berbahagia, iya itu yang tergambarkan di mataku.
Yang ada di pikirku adalah satu hari, tak berpikir untuk meminta lebih, satu hari saja dimana aku bisa meredupkan api amarah di dalam diriku.
Dingin menusuk tulangku saat ku injakkan telapak kakiku di tepi laut.
Aku sudah tidak peduli akan hal-hal di sekitarku, bahkan celana panjangku yang telah terendam.
Aku berjalan dan berjalan menyusuri pantai untuk beberapa saat; Oh andai hidupku bisa seperti ini setiap harinya.
Sempat aku terbawa pergi oleh arus pantai yang begitu menenangkan, tetapi aku terbangun dari alam mimpiku yang kebetulan nyata.
Aku kembali ke tengah-tengah keramaian dan melanjutkan hariku.
Iya, semua memang baik-baik saja, itu yang ku harapkan.
Aku merasa siap menghadapi hari-hari esok yang mungkin tak akan seindah hari ini.
Hari ini tak hanya menjadi titik kebebasan, tapi juga menjadi satu lagi bukti akan tak ada hal yang sempurna.
Ku sangat berharap bahwa aku tak akan tahu mengapa, namun yang sudah terjadi tetaplah menjadi bukti yang kekal.
Singkat cerita, hari ini kututup dengan senyuman kesedihan.
Aku tak tahu arti dari yang terjadi, hal itu tak ingin ku bahas karena terlalu merisihkan di telinga.
Aku bingung, aku tak mengerti, aku cuman ingin meminta kekuatan dan keteguhan hati untuk menghadapi tunas yang sedang bertumbuh di hatiku ini.
Jangan sampai ia tumbuh menjadi pohon kebencian dan kepahitan.
No comments:
Post a Comment