Matahari yang bersinar di kota hujan ini seharusnya dapat mengeringkan setiap tetes air mataku.
Tetapi sepertinya aku terlalu takut untuk menunjukan kehancuran di dalam diriku.
Aku hanya dapat sembunyi di balik tempat tidurku seakan aku terlalu lemah bahkan untuk mengucapkan sepatah kata.
Atau mungkin saja ada terlalu banyak yang ingin aku katakan sehingga aku menjadi bingung akan apa yang harus kulontarkan.
Aku tersesat ketika aku baru saja meninggalkan hari laluku dan aku tak tahu apakah aku dapat menjalani hari hari baruku.
Aku kehilanggan apa yang aku miliki sebelumnya, seperti kura-kura yang lepas dari tempurungnya.
Di kedinginan hujan dah keterikan matahari, aku hanya bisa menenggelamkan diri di lautan tangisan penyesalan.
Tanpa kusadari, telah kupakai lagi topeng lamaku yang telah usang dan rapuh, tetapi aku tidak peduli lagi karena sudah tiada lagi yang bisa kulakukan selain membohongi hati kecilku.
Aku yakin aku masih mempunyai kekuatan untuk berkata bahwa aku baik baik saja.
Aku masih memiliki sebuah kuas untuk menggambar sebuah senyum di atas kesedihanku.
Mungkin aku tidak bisa menjalani hari esok dengan alunan lagu gembira, tetapi dengan senyum senyum yang telah kulukis, akan ku taburkan warna warni tawa ceria untuk orang-orang yang aku sayangi.
Walaupun hampir jatuh air mataku, tetap akan kupinjamkan pundakku bagi mereka yang membutuhkannya.
Inginku lari dari kenyataan yang cukup pedih ini, namun tak ingin ku singgah di perhentian yang sama.
Mungkin aku memang harus berhenti mencari dan menerima apa adanya hidupku ini.
No comments:
Post a Comment